Review Film: We Need To Talk About Kevin (2011)

We Need To Talk About Kevin (2011)
Pemain: Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller
Sutradara: Lynne Ramsay
Durasi: 112 Menit
Spoiler-O-meter: 3/5
Produksi/Distributor: BBC Films, UK Film Council, Piccadilly Pictures
Negara: Amerika Serikat
Release (USA): 4 September 2011
Eva: Why?
Kevin: I used to think I knew. Now I’m not so sure.
[pause]
Prison guard: Time’s up.
Nature Versus Nurture..
Memahami film ini memang diperlukan usaha yang cukup kuat. Bukan saja dituntut lebih sensitif, namun film ini merupakan sajian film khas festival; alur lambat, maju-mundur, dan berpotensi membosankan.
We Need To Talk About Kevin bercerita tentang Eva (Tilda Swinton), seorang traveler sukses yang secara tidak sengaja bertemu dan menjalin cinta dengan Franklin (John C. Reilly). Keduanya memutuskan menikah dan dikaruniai dua orang anak, yakni Kevin (Ezra Miller) dan Celia (Ashley Gerasimovich). Cerita tidak berhenti disitu. Keanehan mulai terjadi kerika Eva melahirkan Kevin. Sebuha usaha yang sulit bagi Eva dalam membesarkan Kevin. Eva sebelumnya seorang workaholic dan wanita yang independen. Kevin tumbuh dengan penuh isak tangis. Entah apa yang ada di dalam diri Kevin kecil sehingga Eva merasa semakin sulit merawat anaknya sendiri..
Film ini, walaupun alurnya terkesan lambat, ternyata memiliki ketegangan dan menimbulkan rasa penasaran yang besar; Apakah seorang anak yang menjadi ‘monster’ karena kurangnya kasih sayang dan kurang lekat hubungannya dengan sang ibu? Kesalahan ibu dalam mengurus bayinya? atau ‘evil-side’ tersebut memang tumbuh sendirinya secara natural?
Kevin, yang tumbuh semakin dewasa mulai menunjukkan keganjilan; melawan ibunya namun menyayangi ayahnya, memprovokasi ibunya, sampai berkelakuan seenaknya sendiri. Ia semakin bengis dan brutal. Eva tampak putus asa namun hal tersebut ditepis oleh sang suami yang menganggap Kevin adalah anak yang baik.
Penampilan Tilda Swinton yang pernah memenangi Oscar tahun 2008 ini sangat memikat. Kesan seorang ibu fragile dan putus asa ditampilkan dengan baik. adapun penampilan Ezra Miller sebagi Kevin tampil mengimbangi Tilda. Penampilan John C. Reilly disini justru terasa menggangu dan tidak pas. Pun begitu, film ini tetap dapat menyajikan suspense diam-diam yang terus membuat anda berpikir. Secara khusus penampilan Twilda Swinton seharusnya pantas diganjar nominasi Oscar tahun ini.
Secara umum film ini sangat terasa aura ‘dark’nya. Ending film ini menurut saya cuku memberikan efek dramatis yang kembali membuat saya berpikir lebih keras. Ah, mungkin anda juga harus menontonnya sendiri…
Movie-O-Meter: 7.4/10
Review Film: Chronicle (2012)

Chronicle (2012)
Pemain: Dane DeHaan, Alex Russel, Michael B.Jordan, Michael Kelly
Sutradara: Josh Trank
Durasi: 84 Menit
Spoiler-O-meter: 3/5
Produksi/Distributor: Adam Schroeder Productions, 20th Century Fox
Negara: Amerika Serikat
Release (Indonesia): 3 Februari 2012
Meet Chronicle; A Mix Presentation of Heroes, Cloverfield, and Harry Potter?
Ketika saya melihat trailer film ini tepat sebulan sebelum premiere nya, yang ada dipikiran saya adalah serial Heroes yang beberapa tahun kebelakang sangat terkenal dan menghibur. Memang bener, apa yang ditawarkan Chronicle seperti bauran antara serial Heroes, film Cloverfield, dengan sedikit sentuhan Harry Potter mungkin…
Cerita berawal dari pertemanan Andrew (Dane DeHaan) seorang anti-social dengan kameranya yang selalu mendokumentasikan semua hal, dan Matt (Alex Russel). Pertemanan mereka tampak lancar-lancar saja sampai suatu saat mereka berdua, bersama dengan Steve (Michael B. Jordan) mendapatkan gua dengan sinar aneh didalamnya. Bertiga, mereka terkena radiasi yang membuat mereka memiliki kemampuan telekinesis yang menakjubkan.
Pertemanan diantara mereka bertiga menjadi semakin erat dan mengalami masa-masa menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang tahu dengan kemampuan spesial mereka yang digunakan untuk menjahili orang, atau berbuat hal-hal usil.
Tidak banyak cerita baru yang ditawarkan film ini, resepnya sama, dengan efek visual yang tidak istimewa. Film ini ditolong oleh pendekatannya yang logis dan down-to-earth walaupun endingnya bisa dikatakan mengecewakan.
Bagaimana Andrew, Matt dan Steve menyikapi kekuatan super mereka? Mengangkat, Mendorong barang, atau bahkan menerbangkan tubuh mereka sendiri hanya dengan kekuatan pikiran memang menyenangkan, namun apakah semuanya memang benar-benar menyenangkan?
Film ini cukup menarik untuk ditonton walaupun tidak benar-benar menyenangkan untuk ditonton. Judul ‘Chronicle’ yang dipakai ternyata mengandung arti bahwa film ini akan diplot untuk sequel atau prequelnya. Masalah anda mau menonton atau tidak? Saya serahkan kembali kepada anda..
Movie-O-Meter: 6.9/10
Review Film: Drive (2011)

Drive (2011)
Pemain: Ryan Gosling, Carey Mulligan, Oscar Isaac
Sutradara: Nicolas Winding Refn
Durasi: 100 Menit
Spoiler-O-meter: 3/5
Produksi/Distributor: Bold Films, Odd Entertainment / Parkit Films
Negara: Amerika Serikat
Release (Indonesia): 8 Desember 2011
Driver: [talking to Irene on the phone] I just wanted you to know… just getting to be around you was the best thing that ever happened to me.
Fun Fact: Sampai saat-saat terakhir film ini akan dibuat, Hugh Jackman adalah pemain utama hingga akhirnya diganti oleh Ryan Gosling di saat-saat terakhir.
A Gloomy, Gloomy Thiller..
Akting Ryan Gosling tampaknya semakin bersinar. Blue Valentine, Crazy, Stupid, Love hingga Drive dan The Ides of March membuktikan bahwa Ryan adalah pemain yang semakin menjanjikan. Di film ini, Ryan membuktikan hal tersebut dengan baik. Drive, sebuah film thriller yang ternyata tak biasa..
Kisah ini adalah kisah Driver (Ryan Gosling) seorang stuntman film laga di siang hari, dan pengemudi kriminal bayaran di malam hari, yang bertetangga dengan Irene (Carey Mulligan) ibu satu anak dengan suami yang mendekam di penjara akibat kasus narkoba. Situasi menjadi kompleks ketika Standard (Isaac Newton) suami Irene keluar penjara namun memiliki hutang kepada rentenir. Driver membantu Isaac untuk membayar hutang tersebut dengan cara instan khas kriminal; merampok rumah gadai.
Premis film ini berfokus pada Driver, Irene, dan Standard dengan karakter dan masalahnya masing-masing. Sebagai sebuah film thriller, film ini istimewa karena disusun oleh adegan-adegan brutal nan artistik. Sang sutradara, Nicolas Refn mampu membangun suasana ‘gelap’ tersebut dengan memikat. Apa yang saya sebut dengan gloomy thriller dapat dilihat dari kegundah-gulanaan Driver dalam menjalani kehidupannya.
Driver yang karakter psikologisnya menarik untuk diselami, adalah pula seorang pencinta. Saya tidak akan menceritakan alasannya lebih lanjut, yang jelas istilah Brutally Romantic patut disematkan pada film ini. Drive bukanlah jenis film yang dapat memuaskan semua penontonnya; Alurnya yang lambat dan adegan sadis di sana-sini mungkin tidak cocok untuk semua kalangan. Tapi buat saya, film ini membuat pikiran saya kemudian bertanya-tanya; “Apakah kita patut bergelisah hati dengan hidup kita?”
Saya menonton film ini di bioskop juga lewat DVD. Jelas, sensor di bioskop cukup mengganggu dan mengurangi kesan dan pesan film. Saran saya, tontonlah juga versi DVDnya. Semoga, anda juga dapat menikmatinya seperti saya dapat mengagumi film ini..
Movie-O-Meter: 7.8/10
A picturesque, slow-paced thriller movie, Drive reflects anxiety and gloominess in human being. Definitely not for everyone.
Review Film 50/50 (2011)
50/50
Pemain: Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, Anna Kendrick, Bryce Dallas Howard, Anjelica Houston
Sutradara: Jonathan Levine
Durasi: 100 Menit
Spoiler-O-meter: 3/5
Produksi/Distributor: IWC Productions, Mandate Pictures, Point Gray / Summit Entertainment
Negara: Amerika Serikat
Release (US): 30 September 2011
Fun Fact: Dinominasikan sebagai film terbaik untuk Independent Spirit Awards 2012 dan Golden Globes Awards 2012 dalam kategori Film Panjang Terbaik - Musikal & Komedi.
Kyle: You could have totally f*cked the shit out of that girl.
Adam: No one wants to f*ck me. I look like Voldemort.
Sebuah Cerita (Lagi) Tentang Perjuangan Hidup..
Jika awal tahun lalu kita disuguhkan film 127 Hours yang merupakan kisah nyata, maka di akhir tahun 2011 ini, film 50/50 dirilis berdasarkan kisah asli yang ditulis oleh Will Leiser, seorang pengidap kanker.
Adam (Joseph Gordon-Levitt) adalah pemuda paruh baya yang dikejutkan oleh vonis dokter: Ia mengidap tumor dan kanker sumsum tulang belakang yang langka. sebagai seseorang yang menganut pola hidup sehat, tentu, hal ini mengejutkan dan menyedihkan. Sempat frustasi, ia memilih untuk melawan penyakitnya.
Film yang sekilas terlihat dramatis dan melankolis ini ternyata jujur dan jenaka. dibanding film-film Hollywood lain yang berpretensi sentimental, film ini ternyata menyuguhkan hiburan ringan tentang semangat hidup dan persahabatan. Seth Rogen yang berperan sebagai Kyle, sahabat Adam bermain cair dan down-to-earth. Dengan joke-joke yang satir, film ini bagai oase diantara film Hollywood lain yang menyajikan berbagai hal yang gegap-gempita.
Bagaimana Adam menyikapi hidupnya, praktis setelah mengalami konflik pula dengan kekasihnya Rachael (Bryce Dallas Howard), serta hubungan Ibu-Anak antara Adam dengan Diane, ibunya (Anjelica Houston) adalah suguhan yang sederhana dan membumi.
Akting para pemain yang tidak berlebih-lebihan serta storyline yang linier, film ini bisa jadi terkesan datar atau justru malah bersahaja. Saya pribadi menganggap film ini dapat ‘mengisi’ jiwa saya tentang makna perjuangan hidup..
Movie-O-Meter: 7.0/10
Review Film The Perfect House (2011)

The Perfect House (2011)
Pemain: Cathy Sharon, Bella Esperance, Endy Arfian, Mike Lucock, Wanda Nizar
Sutradara: Affandi Abdul Rahman
Durasi: 95 Menit
Spoiler-O-meter: 2/5
Produksi/Distributor: Vera Lasut Productions
Negara: Indonesia
Release (Indonesia): 27 Oktober 2011
Fun Fact: Film ini masuk kedalam Official Selection Puchon International Fantastic Film Festival (PiFan) 2011 di Korea Selatan. Film ini ditayangkan sebanyak 2 kali pemutaran di festival tersebut.
A Well-Made Indonesian Psycho-Thriller Movie
Sebuah film yang sebelumnya diekspektasikan rendah ternyata dapat menjadi sebaliknya setelah kita selesai menontonnya. Itu yang saya rasakan ketika menonton film besutan Affandi Abdul Rahman yang sebelumnya dikenal lewat film Pencarian Terakhir (2007) dan Heart-break.com (2009).
Film yang diproduseri Vera Lasut ini menawarkan sesuatu yang berbeda untuk ukuran film Indonesia; genre psycho-thriller. Film ini mengisahkan Julie (Cathy Sharon) yang terpaksa mengajar Yanuar (Endy Arfian) bocah berkebutuhan khusus di sebuah rumah tua di kawasan Puncak. Julie terpaksa mengajar Yanuar, cucu dari Rita (Bella Esperance) akibat rekan kerjanya Lulu yang kabur tanpa alasan dari rumah tersebut.
Jika anda mengharapkan adegan potong sana-sini, ataupun adegan sadis nan brutal, film ini bukanlah jenis film tersebut. Ada beberapa kesamaan tema antara film ini dengan film Rumah Dara, namun jelas, film ini mengunci cerita dengan unsur psikologis dan suspense yang dibangun sedikit demi sedikit.
Apa yang menjadi titik masalah dari film ini adalah keganjilan Madam Rita yang tidak membolehkan Yanuar untuk keluar dari rumah tersebut. Julie, sebagai guru yang dipenuhi rasa curiga akhirnya menemukan keganjilan demi keganjilan atas perilaku Rita. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut?
Menonton film ini di Gala Premierenya, saya memberikan penghargaan khusus kepada Vera Lasut yang membuat film ini bukan sekedar film horor atau thriller biasa. Film ini dibuat dengan sepenuh hati. Pun begitu, film ini tidak lepas dari pedasnya kritik di mata internasional. Film ini dianggap sangat serupa dengan banyak film lainnya oleh kritikus asing. Bagi saya pribadi, film ini tergolong mengasyikan untuk ditonton, walaupun ternyata.. cukup predictable.
Menyaksikan film ini ternyata membutuhkan kesabaran, karena misteri demi misteri dibangun lambat dan dijawab sepenuhnya di akhir cerita. Akting Endy Arfian yang adorable dan akting Bella Esperance yang meyakinkan cukup membantu film ini. Jejeran penanggung jawab musik seperti Bemby Gusty dan Khikmawan Sentosa juga membuat film ini menjadi ‘bernyawa’.
Film ini bukannya tanpa cela, tapi jelas, film ini menarik untuk disaksikan. Semoga saja Vera Lasut semakin terpacu untuk menghasilkan karya selanjutnya yang jauh lebih meyakinkan. Semoga.
Movie-O-Meter: 6.5/10
Review Film Captain America: The First Avenger (2011)

Captain America: The First Avenger (3D)
Pemain: Chris Evans, Hayley Atwell, Hugo Weaving, Tommy Lee Jones
Sutradara: Joe Johnston
Durasi: 124 Menit
Spoiler-O-meter: 2.5/5
Produksi/Distributor: Marvel Enterprises, Marvel Studios / United International Pictures, Omega Film
Negara: Amerika Serikat
Release (Indonesia): Minggu Kedua September 2011
Peggy Carter: You can’t give me orders!
Steve Rogers: The hell I can’t!
[smiles]
Steve Rogers: I’m a captain!
Fun Fact: Film ini dibuat untuk memperkuat positioning film ‘megaproyek’ Marvel Studios yakni The Avengers yang akan dirilis tahun 2012. Tonton footage beberapa menit film The Avengers sesaat setelah credit title film ini berakhir.
One of The Most Awaited Movie in 2011
Setelah beberapa bulan menunggu dalam ketidakpastian, akhirnya film-film blockbuster Hollywood hadir kembali ke Indonesia melalui distributor Omega Film. Diluar segala bentuk kontroversi tersebut, kita memang menunggu-nunggu film Harry Potter: The Deathly Hallows Part 2, dan Captain America: The First Avenger ini karena promosi dan gembar-gembor nya yang cukup menghebohkan. Film Captain America juga merupakan salah satu film superhero yang ditunggu-tunggu dan memang di-slot di bulan Juli yang merupakan bulan utama liburan pada perilisan box-office.
Plot film ini memang agak sedikit berbeda dengan komiknya. Steve Rogers (Chris Evans) seorang pemuda bertubuh kecil dengan fisik yang lemah secara tidak sengaja bertemu dengan Dokter Erskine (Stanley Tucci) yang akan menguji cobakan penemuan barunya. Setelah berulang kali gagal mengikuti ujian militer Amerika untuk diberangkatkan dalam Perang Dunia ke-2, Ia kemudian mengikuti eksperimen Dokter Erksine tersebut dan mengubah fisiknya menjadi lebih kuat. Ia menjadi seorang superhero.
Disisi lain, Johan Schmidt (Hugo Weaving), kepala departemen riset Nazi ternyata memperkuat dirinya melalui program HYDRA dan membuat rencana-rencana jahat termasuk menguasai dunia dan menjadikannya seorang Red Skull . Di tempat lain, sosok Steve Rogers yang memiliki kekuatan super ternyata hanya dijadikan sebagai maskot kekuatan tentara Amerika saja. Bagaimana Steve Rogers melewati itu semua dan menjadikannya seorang Captain America sejati?
Durasi 124 menit pada film ini, jujur saja, terasa lama. excitement nya tidak seseru film lain dengan durasi yang sama. Mungkin salah satu kesalahan penonton film ini (termasuk saya) adalah memiliki ekspektasi yang sangat tinggi sehingga film karya Joe Johnston ini terasa kurang menggigit pada waktu ditonton. Skenario karya Christopher Markus dan Stephen McFeely yang sukses dengan adaptasi Narnia terasa kurang mengena, apalagi dengan akting pemainnya yang bisa dikatakan standar.
Film ini cukup komikal, dan menjadikannya sebagai film yang sarat dengan penggunaan efek visual dan CGI yang tinggi. Hal ini cukup menyenangkan dan menjadikan film ini dapat cukup dinikmati. Sisi lemah film ini justru muncul dari aspek romansa. Kisah percintaan Steve Rogers (Chris Evans) dan Peggy Carter (Hayley Atwell) terasa sebagai ‘tempelan’ saja dan dipaksakan. Tidak banyak perjalanan romantis yang melodramatik yang tidak sesuai dengan akhir cerita di film ini.
Akting Chris Evans sebagai Captain America dapat dikatakan standar, bahkan akting Hugo Weaving sebagai Red Skull dapat dikata mengecewakan. Entah hal tersebut merupakan bagian dari skrip atau bukan, namun penampilan komikal Red Skull dalam film ini terasa mengganggu dan murahan.
Plot pseudo-realistik dengan latar Perang Dunia ke-2 ini justru mengingatkan saya pada film Inglorius Basterds nya Quentin Tarantino. Kedua film ini memiliki latar pseudo-realistik yang sama, namun Captain America jauh tertinggal dalam sisi ceritanya. Boleh dikata, film ini merupakan film khas summer blockbuster pengeruk uang serta bukti ambisi Marvel Studios untuk menyukseskan megaproyeknya The Avengers.
Film ini tidak dapat dikatakan buruk secara keseluruhan. Berbagai segi dalam film ini seperti penggunaan teknologi visual, action, dan patriotisme khas Amerika ternyata cukup menyenangkan untuk ditonton. Penggunaan 3D ketika saya menonton film ini di Cathay Cineleisure terasa tidak maksimal. Dari segi plot dan cerita, film ini hanyalah film biasa yang tidak istimewa. Agak membingungkan bagi saya pribadi mengapa film ini mendapat nilai yang bagus pada berbagai reviews dan website film di Amerika Serikat.
Movie-O-Meter: 6.4/10
Review Film Hello Ghost | Hellowoo Goseuteu / 헬로우 고스트 (2010)

Hello Ghost 헬로우 고스트 (2010)
Pemain: Tae-Hyun Cha, Kang Hye-Won, Moon Su-Lee
Sutradara: Young-Tak Kim
Durasi: 120 Menit
Spoiler-O-meter: 1.5/5
Produksi/Distributor: CJ Entertainment, Next Entertainment World, Jive Movies
Negara: Korea Selatan
Release (Indonesia): 6 Juli 2011 (Blitzmegaplex)
Fun Fact: Film ini telah dibeli hak ciptanya untuk di remake versi Hollywood nya oleh Chris Columbus (Sutradara beberapa seri film Harry Potter) karena menjadi hit di negara asalnya, Korea Selatan
Menghibur, penuh makna, dan mengejutkan. Sebuah usaha sineas Korea yang (kembali) harus dipuji!
Sang-Man dan 4 Hantu nya:
Sang-Man (Cha Tae-Hyun) adalah seorang pemuda yang memiliki keputus-asaan dalam menjalani hidupnya. Berbagai kesialan dan ketidak-suksesan silih berganti menimpa dirinya. Suatu saat, ia mencoba bunuh diri, namun entah sial atau tidak, ia gagal membunuh dirinya sendiri dan mendapati dirinya dihantui 4 hantu di rumah sakit; seorang kakek-kakek pemabuk, seorang pria tua yang selalu merokok, seorang wanita pemurung, dan seorang bocah usil. Sang-Man semakin bingung dan stress, apa lagi yang akan terjadi pada hidupnya?
Apa yang disajikan film Hello Ghost adalah sebuah kontemplasi makna mendalam tentang arti hidup dalam kemasan yang lucu dan menarik. Apa yang akan anda lakukan jika anda menjadi Sang-Man? Film ini memiliki berbagai unsur genre yang bertolak belakang seperti komedi, horor, dan romance. Namun, sutradara dan penulis film ini tampaknya tahu betul bagaimana cara mengaduk emosi penonton karena film ini juga tidak sekadar menghibur. jalinan cerita tentang bagaimana Sang-Man menghadapi keusilan keempat hantu tersebut, hingga akhirnya menemukan pujaan hatinya yakni seorang suster, Jung Yun-Soo (Kang Hye-Won) ditata dengan cukup baik dan menimbulkan romansa yang cukup melodramatik.
Untuk beberapa penonton, visualisasi hantu disini terasa konyol dan terlalu ‘manusiawi.’ Namun, hal tersebut memang digunakan untuk memperkuat unsur komedi yang memang menjadi nafas film ini. Kesuksesan film ini di negara asalnya mampu membuat Hollywood tertarik untuk me-remake nya dan siap diluncurkan di tahun 2014 nanti.
Saya tidak akan men-spoil apa saja yang akan disajikan dalam film ini, namun film ini memiliki kesamaan plot dengan film Hollywood tahun 1993 yakni Heart and Souls yang dibintangi oleh Robert Downey Jr. Film ini adalah film tentang cinta dan keluarga. Menghibur, penuh makna, dan mengejutkan. Sebuah usaha sineas Korea yang (kembali) harus dipuji!
Movie-O-Meter: 7.3/10
Review Film Skandal (2011)

Skandal (2011)
Pemain: Uli Auliani, Mario Lawalata, Mike Lucock
Sutradara: Jose Purnomo
Durasi: 83 Menit
Spoiler-O-Meter: 3/5
Produksi / Distributor: Sentra Film (Gobind Pundjabi)
Negara: Indonesia
Release (Indonesia): Maret 2011
Ketika Jose Purnomo mengumumkan proyek film terbarunya ini, ekspektasi saya cukup besar mengingat Jose cukup sukses dalam film Jaelangkung dan Pulau Hantu. Genre film ini pun cukup memikat yakni drama thriller yang cukup berbeda dengan genre film khas Jose yang sebelumnya berkutat di genre film horror-thriller.
Film ini menceritakan kehidupan Mischa (Uli Auliani) yang telah cukup lama menikah dengan Aron (Mike Lucock) dan dikaruniai seorang anak. Kehidupan mereka tampak adem ayem saja sampai suatu ketika Mischa bertemu Vincent (Mario Lawalata) yang ternyata adalah mantan kekasihnya. hubungan terjalin diantara keduanya dan menimbulkan perselingkuhan
Sekilas film ini memiliki premis cerita yang mirip dengan film Unfaithful. Namun ketika ditilik lebih jauh, film ini memiliki beberapa perbedaan. Perselingkuhan Mischa dengan Vincent ternyata memiliki cerita masa lalu yang mendalam. Namun demikian, akting para pemain film ini tidak istemewa, tetapi akting mereka di adegan ranjang ternyata cukup natural.
Kekuatan film ini terletak pada adegan-adegan gelap dan cenderung dewasa dan gimmick adegan syur yang cukup artsy walaupun masih terkesan setengah-setengah bagi beberapa kaum penonton.
Film ini memiliki pesan cerita yang standar, walaupun twist cerita diakhir film ternyata cukup memuaskan sehingga tidak membawa film ini pada jenis film kacangan yang mudah dijumpai pada jenis film horor lainnya yang beredar di Indonesia
Kesimpulannya, film ini ternyata cukup menarik dan memberi warna tersendiri dibandingkan dengan film Indonesia kebanyakan. Mungkin banyak yang berekspektasi lebih pada film ini mengingat faktor Jose Purnomo yang menjanjikan walaupun sebenarnya film ini tidak dapat dikatakan buruk.
Movie-O-Meter: 4.5/10
Recent Updates: Karena film ini memiliki kesamaan plot dan cerita yang sangat mirip dengan film India berjudul Murders, maka Movie-O-Meter diturunkan dari 6/10 menjadi 4.5/10
Review Film The Child’s Eye 童眼 (2010)

The Child’s Eye 童眼 (2010)
Pemain: Rainie Yang, Elanne Kwong, Jo Koo, Lam Ka-tung
Sutradara: Alvin Lam, Pang Brothers (Danny Pang & Oxide Pang)
Durasi: 97 Menit
Spoiler-O-Meter: 2/5
Produksi/Distributor: Digital Magic / Universe Entertainment
Negara: Hong Kong
Release (Indonesia): 16 Maret 2011
Sinopsis:
Saat proyek film ini diberitakan akan rilis di akhir tahun 2010, saya cukup antusias mengingat film ini digawangi oleh Pang Brothers yang sukses dengan film The Eye dan The Eye 2. apalagi, dengan embel-embel 3D yang kini juga merambah film horor. singkat cerita, film ini cukup menjanjikan.
Di Indonesia, Film ini dirilis dikala masalah dispute antara pihak MPAA, Dirjen Pajak & Bea Cukai serta distributor film belum juga terselesaikan. entah, rilisnya film ini disini ada hubungannya atau tidak dengan dispute tersebut sehingga film ini ditayangkan untuk “mengisi” kekosongan film-film di bioskop.
Film ini memiliki premis cerita yang menarik yakni sekelompok muda-mudi yang terpaksa tertahan di Bangkok akibat situasi politik gonjang-ganjing yang terjadi disana.Sekelompok muda-mudi ini melakukan trip ke Bangkok untuk liburan. sesampainya disana, terjadi krisis politik yang memaksa mereka untuk pulang kembali ke Hong Kong. Di tengah perjalanan menuju bandara, jalan mereka ditutup dan mereka terpaksa harus menginap di suatu hotel yang menyimpan rahasia mencekam. satu per satu mereka menghilang di hotel tersebut. Rainie (Rainie Yang) harus menjawab misteri yang ada di hotel tersebut.
sepintas, awal kisah ini cukup menarik, bukan?
Review:
Dalam film horor, logika seakan menjadi nomor dua dibandingkan dengan kengerian. namun, tidak dapat dilupakan bahwa logika juga memiliki peranan penting sehingga cerita dalam film horor menjadi menarik. sayangnya, logika cerita di film ini terasa absurd dan kurang menantang.
Kualitas cerita film ini ternyata masih jauh apabila dibandingkan dengan cerita film The Eye. Formulasinya cenderung klise dan bertele-tele. Karakterisasi nya juga terasa sangat lemah. adegan-adegan dimana ketiga perempuan yang kehilangan pacarnya masing-masing ini aktingnya sangat datar kalau tidak mau dikatakan mengecewakan.
Dengan pengambilan khas film horor asia (slow-motion, stop-motion, fast-forward) film ini memiliki potensi besar, namun entah kenapa efek visual nya terasa aneh. Beberapa bagian di film ini sengaja di shoot khusus untuk keperluan 3D. Sekali lagi, ini justru mengurangi isi cerita karena visualisasinya justru mengurangi estetika dan ke-creepy-an film.
Bagaimana dengan twist cerita? ternyata juga sama mengecewakannya. film ini cukup mudah ditebak dan tidak memberikan sesuatu yang baru. Walau demikian, ada satu karakter “monster” yang cukup membuat kaget dan penasaran (sengaja tidak saya spoil) namun demikian, karakter tersebut tidak cukup membuat keseluruhan film menjadi tertolong. dramaturgi kisah film ini juga kurang mulus walaupun sound nya cukup mumpuni.
Apa yang bisa saya simpulkan tentang film ini?
Janganlah berekspektasi tinggi pada film ini hanya karena ada nama Pang Brothers di jejeran sutradara nya. film ini mungkin cukup memacu adrenalin (apalagi kalau sambil pacaran :P) dan memiliki beberapa moment yang cukup mengagetkan. namun film ini tidak memiliki cerita yang menarik sehingga keseluruhan terasa klise. film ini, mungkin, hanya menawarkan hiburan film horor khas Hong Kong yang sudah lama tidak ditayangkan di Indonesia.
Movie-O-Meter: 5.5/10
just watched The Child’s Eye at Hollywood XXI. it’s an unsatisfying Pang’s movie. they hit a new low! bad story, bad 3D visualizations!
Saya, dan salah satu mimpi yang (telah) terwujud

Mau bicara apa saya hari ini?
Mimpi.
Suatu hari, di waktu saya masih ranum-ranumnya (halah) maksudnya, waktu baru menginjak SMA, saya diajak si Babeh dan Mamih ke suatu acara.
Karena waktu itu saya orangnya bagai kerbau dicucuk hidungnya (alias, hayuk-hayuk aja) akhirnya saya diajak ke Persada Country Club di Halim (entah benar atau salah nih nama tempatnya)
Saya pikir disitu cuma acara makan-makan doang, eh gak taunya disitu acara Malam Keakraban Abang None Jakarta Timur (saya lupa tahun berapa). Acaranya sih sebenernya biasa-biasa aja, tapi ada satu hal yang gak bisa saya lupakan, “Saya mau kayak mereka! keren dan pinter-pinter!” batin saya.
Singkat kata, saya menganggap si Abang-abang dan None-none ini bukan cuma baik fisiknya, tapi punya wawasan yang luar biasa. ada yang bisa bahasa perancis, jepang, segala macem lah. saya jadi kepingin kayak gitu. mungkin doktrin dari si Mamih saya yang sempet bilang gini ke saya: “Abnon itu keren lho, Bang! mereka kuliahnya bagus-bagus! cakep-cakep! pasti ngebanggain orang tua nya!”
Nah! jadi kepengen juga kan saya!
tahun demi tahun, saya akhirnya menjalani kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. gak kepikiran tuh ikut-ikutan Abnon-Abnon an. tugas banyak bener, kuliah pusing dobel jurusan. sama sekali gak kepikiran.
sampai suatu saat tahun 2008 saya ceritanya ditelpon si Mamih dari Jakarta. dia bilang: “Eh, Abang, coba kamu liat tipi, ada Malam Final Abnon, tuh!” Yak, saya nyalain tipi dan… Ih bener, para abang-abang dan none none itu mejeng di panggung. keren amat dah! (iya, ini saya emang agak kampungan)
keinginan saya ikut abnon membuncah lagi (halah). agak gak pede sih, saya gak cakep, gak tinggi-tinggi amat. tapi saya didesak desak si Mamih buat ikutan abnon tahun depannya (2009). ps: saya emang dipanggil “abang” karena itu panggilan khas orang aceh buat anak tertua :D
April 2009, heboh bener pengumuman pendaftaran abnon di internet. sempet mikir mau ikutan. si Mamih apalagi, heboh bener nyuruh-nyuruh saya daftar. sumpah bingung. saya gak pede.
Mei 2009, saya gak jadi daftar abnon. harus ikut Kuliah Kerja Nyata di Ciamis selama 2 bulan. si Mamih keselnya ampun-ampunan. mau gimana lagi? saya putuskan ikut abnon tahun depannya.
Mei 2010, sempet bingung mau daftar abnon. tapi si Mamih kayaknya bakal uring-uringan kalau saya gak ikut Abnon (ini sebenernya yang kepengen saya apa si mamih ya?)
sempet bingung mau daftar wilayah mana. tapi, dasar saya ini orangnya taktis dan penuh strategi, saya lihat twitter masing-masing wilayah. @abnonutara2010 waktu itu followersnya paling dikit, kalo gak salah cuma 90an followers. @abnonseribu juga dikit sekitar 110an followers. yang lain hampir nyampe 200an followersnya. malahan @abnontimur hampir 300 followers. sya la la… mau milih wilayah aja bikin senewen. tapi akhirnya saya ikut Abnon Jakarta Utara! ahak! emang sumpah jauhnya amit-amit! di Tanjung Priok coba Kantor Walikotanya! setelah doa komat-kamit dan nanya-nanya ke temennya temen saya yg finalis Abnon Jakarta Utara 2009 (baca: @giyswindatama) akhirnya saya mantep haqul yaqin pilih Jakarta Utara. was wes wos! (apalah ini maksudnya)
kenapa saya pilih Jakarta Utara? pragmatisnya sih: Kesempatan masuk jadi finalis terbuka lebar! ketemu Mpok Maudy Koesnadi pula kan! tapi, Jawaban Idealis nya: tantangannya! letaknya jauh penuh perjuangan, dan tugas-tugasnya unik! menyambut Awak Kapal Perang setiap melintasi dan mampir di Pelabuhan Tanjung Priok! at least itu kata senior yang udah jadi abnon jakarta utara.
Akhirnya saya ikut seleksinya, dan masuk jadi finalis! sedikit gak percaya karena gak nyangka. saya juga sempet mikir, “ini kan cita-cita saya? kok dapetnya gampang amat ya?”
setelah masuk, saya dikarantina selama sebulan. well, judulnya aja sih karantina, tp literally kita bisa pulang balik ke rumah tiap hari (kecuali sebelum dan sesudah malam final kita bener-bener harus ada di Hotel Novotel Mangga Dua). selama karantina saya ketemu banyak orang hebat! orang-orang pintar! bukan cuma temen-temen sesama finalis yang emang pinter-pinter, tapi kita semua (finalis Abnon Jakarta Utara) ketemuberbagai praktisi yang nggilani! pertama, kita ketemu Mbak Ayu Diah Pasha yang jago banget ngasih tips dan workshop tentang public speaking. kita juga ketemu Pandji Pragiwaksono (@pandji) yang ngasih semangat muda berkarya dan nasionalisme yang (hampir) bikin gue nangis. (oke, yang barusan lebay) tapi beneran deh, Pandji ini sebenernya motivator yang ulung. doi sukses bikin kita semua semangat lahir batin. oh ya, terus kita ketemu Najwa Shihab (@NajwaShihab) juga lho! dia ngasih semi workshop tentang public speaking dan grooming. keren banget kan Abnon Jakarta Utara? :p
Malam Final Abnon Jakarta Utara 2010. ngebayanginnya aja merinding. perjuangan hampir sebulan ditentuin disini. Nandak (nari ala betawi) harus kompak dan serempak. sesi Q&A (Question & Answer) harus mulus kalau gak mau dicaci-maki penonton. semuanya, baca: SEMUANYA membentuk pressure sekaligus semangat luar biasa di dada saya.
Hasilnya? Saya digelari Wakil 1 Abang Jakarta Utara 2010 (runner-up). kaget sekaligus senang luar biasa. kayaknya, malam itu adalah malam pembuktian saya ke orang tua saya kalau saya bisa bikin mereka bangga! that’s it! :’-)
Apa Kesimpulannya? Salah satu mimpi saya telah terwujud! bukan karena saya masuk Abnon Jakarta Utara dan jadi runner-up. bukan itu. tapi saya berhasil membuktikan bahwa satu hal yang sebelumnya hampir mustahil ternyata bisa saya raih! lebih besar dari ekspektasi saya pulak! (eh kok ini bahasanya ala-ala motivator gitu ya? :p)
Saya ingat, di suatu malam saya begadang browsing internet karena mencoba belajar tentang budaya betawi. saya ingat, saya sempat buka-buka buku Themen Neu (belajar bahasa jerman) demi mencoba-coba kembali Bahasa Jerman saya yang dulu pernah dipelajari. saya ingat, saya belajar banyak hal sampai akhirnya saya membuktikan bahwa saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.
ah, jadi ingat kata-katanya Paulo Coelho yang terkenal itu:
“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
hehe, jadi sedih sekaligus bahagia (ini bukan drama :p) tapi beneran, saya percaya bahwa kekuatan pikiran dan keinginan itu bisa membahayakan! kenapa? karena semuanya ternyata bisa jadi kenyataan!
Have Faith!
:-)

